Definisi system : suatu jaringan kerja dari
prosedur-prosedur uang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk
melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu aturan tertentu.
Karakteristik system
Karakteristik system terdiri dari :
• Komponen (elemen)
Suatu system terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi,
yang saling bekerja sama membentuk suatu komponen system atau
bagian-bagian dari system.
• Batasan system (Boundary)
Merupakan daerah yang membatasi suatu system dengan system yang lain atau dengan lingkungan kerjanya.
• Lingkungan luar (Environment)
Suatu system yang ada diluar dari batas system yang dipengaruhi oleh system operasi.
• Penghubungan system (Interface)
Media penghubung antara suatu subsistem dengan subsistem lain.
• Masukan (Input)
Energi yang masuk ke dalam sistem, berupa perawatan dan sinyal.
• Keluaran (Output)
Hasil energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
• Sasaran sistem (Objective)
Tujuan yang ingin dicapau oleh system, akan dikatakan berhasil apabila mengenai sasaran atau tujuan.
Informasi adalah data yang sudah diolah menajdi
sebuah bentuk yang berarti bagi pengguna, yang bermanfaat dalam
pengambilan keputusan saat ini atau mendukun sumber informasi.
Kualitas informasi memiliki 3 kriteria, yaitu:
• Akurat
Informasi harus bebas dari kesalahan, tidak bias atau menyesatkan.
• Tepat pada waktunya.
Informasi yang dating pada peerima tidak boleh terlambat.
• Relevan
Informasi yang disampaikan harus mempunyai keterikatan dengan masalah yang akan dibahas dengan informasi tersebut.
Computer Based Information System
CBIS ini sebenarnya mengacu pada system informasi yang dikembangkan berbasis teknologi computer.
Computer Based Information System = hardware + software + people + procedures + information
1. Sistem Informasi Manajemen
Sisitem informasi manajeman adalah sebuah system yang mampu menyediakan
informasi (merupakan hasil dari proses transaksi yang terjadi) dimana
satu saa lain saling berinteraksi untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan oleh manajemen.
2. Sistem Informasi Akuntansi
System informasi akuntansi merupakan sebuah system informasi yang
mengubah data transaksi bisnis menjadi informasi keuangan yang berguna
bagi pemakainya.
3. Sistem Penunjang Keputusan
System yang berfungsi mentrasformasi data dan informasi menjadi alternatif keputusan dan prioritasnya.
4. Otomatisasi Kantor
Semua sistem elektronik formal & informal terutama yang berkaitan
dengan komunikasi informasi ke dan dari orang-orang di dalam maupun di
luar perusahaan.
5. Sistem Pakar
Sistem pakar adalah aplikasi berbasis computer yang digunakan untuk
menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikirkan oleh pakar, system
pakar memiliki keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang
tidak dapat diselesaikan oleh orang awam.
System pakar memiliki 2 komponen utama yaitu, basis pengetahuan dan
mesin refrensi. Basis pengetahuan merupakan tempat penyimpanan
pengetahuan dalam memori computer, dimana pengetahuan ini diambil dari
pengetahuan ini diambil dari pengetahuan pakar.
DAFTAR PUSTAKA
Kusrini. (2007). Tuntunan praktis membangun system informasi
akuntansi dengan visual basic dan Microsoft SQL server. Yogyakarta :
ANDI
Fatta, A. H. (2007). Analisis dan perancangan system informasi untuk
keunggulan bersaing perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta : ANDI
Kusrini. (2008). Aplikasi system pakar menentukan factor kepastian
pengguna dengan metode kuantifikasi pertanyaan. Yogyakarta : ANDI
Senin, 16 November 2015
Senin, 19 Oktober 2015
Sistem Informasi Psikologi
Nama : Farah Farida Amany
NPM : 12512759
Kelas :
4PA06
Pengertian
dari Sistem menurut beberapa ahli, yaitu:
Sumantri mengatakan bahwa sistem adalah sekelompok
bagian bagian yang bekerja bersama sama untuk melakukan suatu maksud. Bila
terjadi kerusakan terhadap salah satu bagian maka sistem atau seluruh bagian tidak
akan dapat menjalankan tugasnya sepenuhnya. Dengan kata lain, maksud yang
hendak dicapai tidak akan terpenuhi atau setidak tidaknya sistem yang telah
terwujud akan mendapat gangguan.
Pamudji mengatakan
bahwa sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau
terorganisir (An overall roundness or complex or organized), suatu
himpunan atau perpaduan hal hal atau bagian bagian yang membentuk suatu
kebulatan atau keseluruhan yang kompleks dan utuh ((a set or mix of things
or parts forming part of a roundness or complex whole and intact)). Suatu
kebulatan atau keseluruhan yang utuh, dimana didalamnya terdapat komponen
komponen yang pada gilirannya merupakan sistem tersendiri (A determination
or unified whole, in which there are components which in turn is a separate
system) yang memiliki fungsi masing masing yang saling berhubungan satu
dengan lainnya menurut pola, tata atau norma tertentu dalam rangka mencapai
suatu tujuan (has the function of each are interconnected to one another
according to a pattern, system or certain norms in order to achieve a goal.).
Menurut W.J.S.
Poerwadarminta sistem adalah sekelompok bagian bagian atau alat dan
sebagainya yang bekerja bersama sama untuk melakukan sesuatu maksud.
Sumantri mengatakan sistem
adalah sekelompok bagian bagian yang bekerja bersama sama untuk melakukan suatu
maksud. Bila terjadi kerusakan terhadap salah satu bagian maka sistem atau
seluruh bagian tidak akan dapat menjalankan tugasnya sepenuhnya. Dengan kata
lain, maksud yang hendak dicapai tidak akan terpenuhi atau setidak tidaknya
sistem yang telah terwujud akan mendapat gangguan.
Pengertian sistem menurut
Musanef bahwa Sistem adalah suatu sarana yang menguasai keadaan pekerjaan agar
dalam menjalankan tugas dapat diatur, dan sistem adalah suatu tatanan dari hal
hal yang paling berkaitan dan berhubungan sehingga membentuk satu kesatuan dan
satu keseluruhan
Pengertian
dari Informasi menurut beberapa ahli, yaitu:
Abdul Kadir,
McFadden dkk. Mereka mendefiniskan informasi sebagai data yang telah
diproses sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan pengetahuan seseorang yang
menggunakan data tersebut.
Azhar
Susanto didalam bukunya yakni Sistem Informasi Akuntansi, menyatakan bahwa informasi
merupakan hasil pengolahan data yang memberikan arti dan manfaat tertentu.
Burch &
Strater mengemukakan bahwa informasi merupakan proses pengumpulan atau
pengolahan data untuk memberikan sebuah pengetahuan atau keterangan.
George R.
Terry menjelaskan informasi sebagai data yang terpenting untuk memberikan
pengetahuan yang bermanfaat.
Pengertian
dari Psikologi menurut beberapa ahli, yaitu:
Menurut Crow & Crow Pschycology
is the study of human behavior and human relationship. (Psikologi ialah tingkah
laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik berupa
manusia lain (human relationship) maupun bukan manusia: hewan, iklim,
kebudayaan, dan sebagainya.
Menurut Sartain Psychology is the
scientific study of the behavior of living organism,with especial attention
given to human behavior. (Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku
organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia).
Menurut Wundt Psikologi bertugas
menyelidiki apa yang kita sebut pengalaman bagian dalam sensasi dan perasaan
kita sendiri, pikiran serta kehendak kita yang bertolak belakang dengan setiap
objek pengalaman luar yang melahirkan pokok permasalahan ilmu alam. (Abdul
Rahman Shaleh. 2004).
Jadi, Sistem Informasi Psikologi adalah suatu
sistem terintergrasi yang mampu menyediakan informasi berrmanfaat bagi
penggunanya. Ada juga yang menyebutkan sebuah sistem terintergrasi atau sistem
manusia-mesin, untuk menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajemen
dalam suatu organisasi. Secara umum, bisa disimpulkan bahwa sistem informasi
psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mendapatkan informasi.
Sumber:
Senin, 08 Juni 2015
model terapi keluarga
Konsep Terapi Keluarga
Terapi
keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga
sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga (Gurman, Kniskern &
Pinsof, 1986). Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang
ada pada terapi individual mempunyai konsekwensi dan konteks social. Contohnya,
klien yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa
terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari
psikopatologi, lingkungan keluarga dan interksi orang tua- anak adalah penyebab
dari perilaku maladaptive (Bateson et al,1956; Lidz&Lidz, 1949 ;Sullivan,
1953).
Penelitian mengenai terapi keluarga dimulai pada tahun
1950-an oleh seorang Antropologis bernama Gregory Bateson yang meneliti tentang
pola komunikasi pada keluarga pasien skizofrenia di Palo
Alto, California.
Penelitian ini menghasilkan 2
konsep mengenai terapi dan patologi keluarga, yaitu :
- the double bind (ikatan ganda)
Dalam terapi keluarga, munculnya gangguan terjadi saat
salah satu anggota membaik tetapi anggota keluarga lain menghalang-halangi agar
keadaan tetap stabil.
- family homeostasis (kestabikan keluarga)
Bagaimana keluarga menjaga kestabilannya ketika
terancam.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan fungsi anggota
keluarga maka sistem dalam keluarga musti dipengaruhi dengan melibatkan seluruh
anggota keluarga bukan individual/perorangan.
Adanya gangguan dalam pola komunikasi keluarga adalah
inti dari double bind. Ini terjadi bila ‘korban’ menerima pesan
yang berlawanan/bertentangan yang membuat sulit bertindak konsisten dan
memuaskan. Anak diberitahukan bahwa ia harus asertif dan membela haknya namun
diwaktu yang sama dia diharuskan menghormati orangtuanya, tidak menentang kehendaknya,
dan tidak pernah menanyakan/menuntut kebutuhan mereka. Apa yang dikatakan
berbeda dengan yang dilakukan. Keadaan ini selalu ditutupi dan disembunyikan,
sehingga si ‘korban’ tidak pernah menemukan sumber dari kebingungannya. Jika
komunikasi ini (double bind
communication) terjadi berulang kali, akan mendorong perilaku skizoprenik.
Kemudian timbul kontrovesi
mengenai teori double bind ini,
khususnya dengan faktor gentik dan sosiologi yang menyebabkan terjadinya
skizofrenia. Hal ini kemudian melahirkan penelitian untuk pengembangan terapi
keluarga.
Teori keluarga memiliki pandangan bahwa keluarga adalah
fokus unit utama. Keluarga inti secara tradisional dipandang sebagai sekelompok
orang yang dihubungkan oleh ikatan darah dan ikatan hukum. Fungsi keluarga
adalah sebagai tempat saling bertukar antara anggota keluarga untuk memenuhi
kebutuhan fisik dan emosional setiap individu. Untuk menjaga struktur mereka,
sistem keluarga memiliki aturan, prinsip-prinsip yang memungkinkan mereka untuk
melakukan tugas-tugas hidup sehari-hari. Beberapa peraturan yang dinegosiasikan
secara terbuka dan terang-terangan, sedangkan yang lain terucap dan rahasia.
Keluarga sehat memiliki aturan yang konsisten, jelas, danditegakkan dari waktu
ke waktu tetapi dapat disesuaikan dengan perubahan perkembangan kebutuhan
keluarga. Setiap anggota keluarga memiliki peranan yang jelas terkait dengan
posisi sosial mereka.
Terapi keluarga sering dimulai
dengan fokus pada satu anggota keluarga yang mempunyai masalah. Khususnya, klien yang diidentifikasi adalah remaja laki-laki yang
sulit diatur oleh orang tuanya atau gadis remaja yang mempunyai masalah makan.
Sesegara mungkin, terapis akan berusaha untuk mengidentifikasi masalah keluarga
atau komunikasi keluarga yang salah, untuk mendorong semua anggota keluarga
mengintrospeksi diri menyangkut masalah yang muncul. Tujuan umum terapi
keluarga adalah meningkatkan komunikasi karena keluarga bermasalah sering
percaya pada pemahaman tentang arti
penting dari komunikasi (Patterson, 1982).
Terapi keluarga mengajarkan penyelesaian tanpa paksaan,
mengajarkan orang tua untuk menetapkan kedisiplinan pada anak-anak mereka,
mendorong tiap anggota keluarga untuk berkomunikasi secara jelas satu sama
lain, mendidik anggota keluarga dalam prinsip perubahan perilaku, tidak
menekankan kesalahan pada satu anggota akan tetapi membantu anggota keluarga
apakah hyarapan terhadap anggota yang lain masuk akal.
Pendekatan berpengaruh yang
lain disebut strategi atau terapi keluarga terstruktur (Minuchin, 1974; Satir,
1967). Disini, terapis berusaha menemukan problem utama dari masalah klien
dalam konteks keluarga, bukan sebagai masalah individual. Tujuannya adalah
untuk mengurangi sikap menyalahkan yang
mengarah pada satu orang. Contohnya, terapis
menyampaikan bahwa perilaku menentang dan agresif dari remaja mungkin adalah
tanda dari ketidakamanan remaja atau alasan untuk mendapatkan perhatian yang
lebih dari ayahnya. Pada banyak keluarga yang mengalami stress, pesan emosional
begitu tersembunyi sehingga anggota keluarga lebih sering berbicara tanpa
berbuat. Mereka sering mengasumsikan bahwa mereka dapat “saling membaca pikiran
masing-masing”.
Saat ini, terapi keluarga
terstruktur telah disesuaikan untuk membawa faktor budaya yang mungkin
berpengaruh pada terapi keluarga dari kelompok etnis tertentu. Untuk membawa
keluarga ke terapi, membuat mereka tetap kembali, harus ada perjanjian keluarga
yang disusun untuk menghindari hal-hal berikut :
- penolakan anak untuk mengikuti terapi,
- sikap ambivalen ibu dalam memasukkan keluarganya ke dalam terapi,
- penolakan keberadaan seorang ayah dalam keluarga, dan
anggota keluarga tetap
berusaha menjaga rahasia keluarga dari orang asing.
Terapi keluarga biasanya diberikan saat pasien sudah
dewasa sebagai hasil dari keluarga yang patologis. Terapi individual mungkin tidak berguna karena
kondisi keluarga yang tidak mendukung.
Kondisi keluarga itu bisa
mengganggu kepribadian dan tingkah laku pasien. Namun jika memungkinkan,
tritmen bagi penderita skizofrenia atau borderine yang masih awal dengan
memanfaatkan seluruh anggota yang ada mungkin bisa berguna. Terapi dimulai
dengan fokus pada masalah yang dialami pasien dalam keluarga dan kemudian
anggota keluarga menyampaikan/memberikan kontribusi masing-masing. Terapis
bertugas untuk mendorong seluruh anggota keluarga untuk mau terasa terlibat
dalam masalah yang ada bersama-sama.
Terapis keluarga biasa
dibutuhkan ketika :
1. Krisis keluarga yang mempengaruhi seluruh
anggota keluarga
2.
ketidak harmonisan seksual atau
perkawinan
3. konflik keluarga dalam hal norma atau
keturunan
Unsur – Unsur Terapi
Keluarga
Terapi keluarga didasarkan
pada teori system (Van Bertalanffy, 1968) yang terdiri dari 3 prinsip. Pertama
adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung
bukan ditentukan dalam sebab satu arah–efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain;
perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang
lainnya. Prinsip kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat
dimengerti sebagai pola integrasi, tidak
sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan
perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain. Prinsip ketiga adalah subjektivitas
yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap
anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.
Terapi keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin
untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci
keluarga. Tanpa adanya ksadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada
setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan
meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa
system dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga.
Tujuan Terapi Keluarga
Tujuan pertama adalah menemukan bahwa masalah yang ada
berhubungan dengan keluarganya, kemudian dengan jalan apa dan bagaimana anggota
keluarga tersebut ikut berpartisipasi. Ini dibutuhkan untuk menemukan siapa
yang sebenarnya terlibat, karenanya perlu bergabung dalam sesi keluarga dalam
terapi ini, juga memungkinkan apabila diikutsertakan tetangga, nenek serta
kakek, atau keluarga dekat yang berpengaruh. Ada cara tercepat dalam terapi dimana terapis
keluarga membuat usaha untuk mempengaruhi seluruh anggota keluarga dengan
menunjukan cara dimana mereka berinteraksi dalam sesi keluarga itu. Kemudian,
setiap anggota keluarga diminta menyampaikan harapan untuk perkembangan diri
mereka sebaik mungkin, umumnya untuk menyampaikan komitmen pada terapis.
Tujuan jangka panjang bergantung pada bagian terapis
keluarga, apakah sebagian besar yang dilakukan untuk mengembangkan status
mengenali pasien, klarifikasi pola komunikasi dlm keluarga, dll. Dalam survey,
responden diminta menyebut tujuan primer dan sekunder mereka, untuk seluruh
keluarga, kedalam 8 kemungkinan tujuan. Tujuan yang disebut sebagai tujuan
primer ‘mengembangkan komunikasi’ untuk seluruh keluarga, ternyata lebih
dipilih ‘mengembangkan otonomi dan individuasi’. Sebagian memilih ‘pengembangan
symptom individu’ dan ‘mengembangkan kinerja individu’. Memfasilitasi fungsi
individu adalah tujuan utama dari terapi individual, tetapi para terapis keluarga
melihat sebagai bukan yang utama dalam proses perubahan keluarga yang luas,
khususnya sistem komunikasi dan sikap anggota keluarga yang menghormati anggota
lainnya.
Dalam survei, bagaimanapun, menjadi
jelas bahwa para therapists keluarga dengan susah bersatu di dalam metoda dan
konsep perawatan keluarga. Hampir semua, Di tahun 1970, ketika itu tritmen keluarga
banyak yang utama adalah patient-centered. Anggota keluarga yang lain, memberi
informasi menyangkut pasien. Contoh
ekstrim yang lain adalah itu merasa terikat dengan suatu pendekatan sistem,
sebagai contoh, Satir dan halay. Mereka melihat proses dari permulaan hingga akhir
dengan memusatkan pada keluarga dengan harapan perubahan dalam keluarga dan membawa
ke arah hidup lebih sehat untuk semua anggota nya. Mereka menekankan proses
keluarga dengan individual psychodinamics, dengan perhatian mereka, memusat
pada pasien yang dikenali.
Proses
dan Teknik Terapi Keluarga
Dalam perjalanannya, untuk membedakan
suatu dimensi dari berorientasi individu ke sistem yang diorientasikan
pemikiran, keluarga therapists dapat diuraikan seperti kepala perguruan tinggi/
dirigen. Dirigen,
sebagai pembanding, cenderung ke program dan mengorganisir cara bekerja,
menentukan agenda, menugaskan tugas, dan dengan aktif menanyai dan mengajar.
Dalam kasus Ackerman, ini mungkin dalam rangka menghilangkan pengingkaran dan
kemunafikan, menuntut anggota keluarga untuk lebih membuka dengan dia dan
dengan diri mereka. Ia menghadapi seksual, agresif, dan perasaan tergantung.
Cara nya besar, yakin, dan jujur. Satir, pada sisi lain, menjadikan dirinya
sebagai guru dan tenaga ahli di
komunikasi. Dia mengarahkan ke diskusi, dan menunjukkan permasalahan dalam
hal komunikasi. Dia menetapkan dirinya sebagai contoh komunikasi yang jelas,
penggunaan yang sederhana dan kata-katanya jelas, dan menjelaskan prinsip nya
kepada keluarga. Meskipun demikian terkait dengan segi manusia yang lain yang
dapat merasakan dan interaksi, dia pada dasarnya seorang guru dan contoh yang
memiliki kejelasan dalam berkomunikasi. Bagaimanapun, apakah lebih sebagai
kondektur atau reaktor, Ackerman dan Satir, semua keluarga therapists perlu
bermain suatu peran yang lebih aktif dibanding yang sudah biasa dalam individu
therapy. Therapist harus yang lebih memiliki kemampuan dalam penggunaan
kendali, melembutkan argumentasi, dan memandu diskusi. Terapi keluarga
meletakkan therapist dalam suatu hubungan yang berbeda dengan klien nya
dibanding dalam terapi kelompok atau
individu. Ia tidak dimulai dari dasar yang sama atau dari sama sama
ketidak-tahuan. Anggota keluarga masuk dengan suatu pengalaman umum; therapist
adalah orang luar. Dalam pelaksanaan bahkan untuk mengerti sindiran sindiran
mereka untuk membagi bersama pengalaman, ia harus belajar ke kultur keluarga,
bahasa dan aturan. Therapist harus sampai kepada dalamnya sistem keluarga memahami dan bekerja dengan itu. Sekalipun
begitu ia tidak bisa menjadi 'yang diatur & bagian dari sistem', karena ia
harus menyendiri dari itu dalam rangka memahami aktivitas nya dan untuk memandu
perubahan nya. Begitu, sisanya antar detasemen dan keterlibatan menjadi yang
lebih dikritisi dalam keluarga therapy dibanding dalam bentuk lain psikoterapi.
Cara-cara lain, adalah dengan berbagi
tugas yang umum dari semua therapists, untuk menyediakan suatu atmospir yang
mendukung dan aman untuk menghadapi pengalaman menyakitkan.
Therapy umumnya
mulai dengan usaha untuk menemukan apa yang sedang mengganggu keluarga dan apa
yang mereka harapkan melalui terapi ini. Sesi pertama atau kedua hanya boleh
melibatkan pasangan yang sudah menikah, dimana sebagai pemimpin menyangkut
keluarga. Yang secara khas cukup, masalah yang ada dikaitkan dengan perilaku
yang menganggu menyangkut pasien yang dikenali "Pemuda lontang lantung
mogok sekolah, dan menggunakan narkoba." Itu hampir suatu kebenaran mutlak
bahwa semua anggota keluarga tidak membagi dugaan yang sama tentang apa yang
salah, mengapa masalah datang, atau seberapa penting hal itu diharapkan untuk
di tritmen bersama-sama. Untuk memperjelas gabungan persepsi dan alasan adalah
suatu awal tugas penting. Dalam proses yang sama, therapis berusaha untuk
mengkomunikasikan sebagian dari peraturan utama, bahwa semua anggota akan
diperlakukan sebagai individu, mereka akan masing-masing diharapkan untuk
mengambil bagian, dan poin-poin pandangan mereka akan dihargai.
Suatu contoh dari
suatu awal sesi suatu keluarga bersama dengan Virginia Satir dapat memperjelas. Keluarga terdiri dari seorang
laki-laki dan Mary dan anak-anak mereka, Johnny (16) dan Patty (7). Orang tua
telah mencari bantuan untuk kelakuan buruk sang pemuda di sekolah. Dalam posisi
ini di dalam wawancara itu Satir
telah menemukan Johnny itu berpikir bahwa keluarga sedang mengadakan suatu perjalanan, sedang Patty
berpikir mereka akan menemui seseorang untuk memperbicangkan tentang keluarga.
Satir bertanya pada anak-anak di mana mereka mendapat gagasan mereka itu.
Patty :
ibu mengatakan kami akan memperbicangkan tentang permasalahan keluarga
Therapist: Bagaimana dengan Bapak? Apa ia menceritakan kepada kamu hal yang sama?
P : Tidak ada
T : Apa yang telah Bapak katakan?
P : Ia berkata kita akan mengadakan suatu perjalanan
T : ok. jadi kamu mendapat beberapa
informasi dari ibu dan beberapa informasi lagi dari Bapak. Bagaimana dengan
kamu, Johnny: Di mana kamu mendapatkan informasi mu?
Johnny : Aku tidak ingat
T :
Kamu tidak ingat siapa yang menceritakan kepada kamu?
Mother : Aku tidak berpikir aku
berkata apapun kepadanya. Ia tidak di sekitar saat
itu, aku mengira
T :
Bagaimana denganmu Bapak? Ada yang Anda katakan ke Johnny?
Father :
Tidak ada, aku pikir Mary yang telah menceritakan kepada dia
T : ( ke Johnny) baik,
kemudian, bagaimana kamu bisa ingat jika tidak ada apapun dikatakan
J : Patty mengatakan kita
akan menemui seorang nyonya untuk membicarakan tentang keluarga.
T :
ok. jadi Kamu Dapat informasi mu dari saudari mu, sedangkan Patty mendapat info
dari Ibu dan Bapak.
( Therapist melanjutkan, menanyakan pada
anak-anak bagaimana mereka menangani perbedaan pesan dari kedsua orang tuanya.
Dia kemudian bertanya pada orang tua perkataan apa yang mereka ingat.
T : Bagaimana dengan itu,
Ibu? Adalah kamu dan Bapak sama-sama bekerja ke luar apa yang kamu akan
ceritakan kepada anak-anak?
M : beginilah, aku berpikir
ini adalah satu masalah kami. Ia mengerjakan hal-hal dengan mereka dan aku
lakukan hal yang lain
F :
Aku berpikir ini adalah suatu hal yang tak penting untuk dicemaskan
T : Tentu saja ini
penting. Akan tetapi kita justru dapat menggunakan itu, untuk lihat bagaimana
pesan berseberangan dalam keluarga. Salah satu hal penting dalam keluarga
adalah bagaimana anggota keluarga berkomunikasi dengan jelas sehingga pesan
mereka tersampaikan. Kita harus lihat bagaimana Ibu dan Bapak dapat bersama
sedemikian sehingga Johnny dan Patty dapat mendapat pesan jelas.
(
segera, dia menambahkan;)
T :
kemudian, Aku akan menceritakan kepada kamu mengapa Ibu dan Bapak sudah kemari.
Mereka kemari sebab mereka tak bahagia dalam keluarga dan mereka ingin membuat
rencana sedemikian rupa sehingga semua anggota keluarga dapat mendapat lebih
kesenangan dari kehidupan berkeluarga.
Dalam peristiwa
ini secara ringkas kita lihat Satir memperkenalkan keluarga ke konsep
komunikasi, selagi menyelidiki pemahaman therapy mereka. Dalam tekniknya,
masing-masing anggota didukung untuk berbicara atas nama dirinya dan untuk
membuat posisi nya dikenal; therapist boleh menyela jika seseorang usaha untuk
menghadirkan pandangan yang lain. Begitu, dia membantu perkembangan suatu
perasaan berharga dan kejelasan pada setiap orang.
Awal dalam sesi
keluarga, suatu sejarah luas keluarga diambil. Ini mulai dengan perkawinan
sepasang orangtua ( " arsitek keluarga" di dalam istilah Satir), yang
mana menyampaikan kepada anak-anak yang
sedikit banyak cerita mengejutkan dalam suatu keluarga mereka masukan ke dalamnya.
Cerita beralih kepada saat ini dan mengembalikan kepada awal hidup dari orang
tua di dalam keluarga-keluarga asal mereka. Therapist begitu mendapatkan suatu
dugaan menyangkut karakter di dalam kehidupan berkeluarga dan tentang yang
terdahulu dan kesinambungan perilaku mereka. Anak-Anak bisa jadi menemukan
bahwa ketika anak-anak menderita banyak kemarahan yang sama ternyata
bertentangan dengan orang tua mereka. Permasalahan kini diberi perspektif dan mungkin yang
lebih dapat dikendalikan. Di dalam proses, dongeng keluarga dapat diungkapkan
dan barangkali dikubur. Meskipun demikian mereka sudah sering mendengar bapak
berkata kepada ibu, "ia mengerjakan mempunyai paman mu darah Max'S,
Pendekatan Terapi Keluarga
1.
Network therapy
Secara
logika, terapi keluarga
adalah perluasan dari
simultan dengan semua yang
tersedia dari system
kekeluargaan, teman, dan
tetangga serta siapa saja
yang berkepentingan untuk
memupuk rasa kekeluargaan
( Speck and Attneave, 1971).
2. Multiple-impact therapy
Multiple-impact
therapy biasanya dapat
membantu remaja pada saat
mengalami krisis situasi
( MacGregor et al.,1964 ). Tim kesehatan mental bekerja dengan keluarga yang beramasalah selama dua
hari. Setelah dibei pengarahan, anggota tim akan dipasangkan dengan salah satua atau lebih anggota keluarga
dengan beberapa varisasi kombinasi. Mungkin ibu dan putrinya dapat ditangani
oleh satu orang terapist, sedangkan ayah ditangani secara individual sepert
halnya anak laki-lakinya. Bila dibutuhkan regroup diperbolehkan untuk
mengeksplorasi maslah keluarga yang rumit. Tujuan dari terapi adalah untuk
reorganisasi sistem keluarga sehingga dapat terhindar dari malfungsi.
Diharapkan sistem keluarga menjadi lebih terbuka dan adaptif, untuk itu terus
dilakukan followup.
3. Multiple- family and
multiple- couple group therapy
Masa
kegiatan kelompok keluarga
selanjutnya menimbulkan suatu
keadaan yang biasa
untuk membantu masalah
emosional ( e.g., Laqueur, 1972 ). Model
ini, partisipan tidak
dapat memeriksa satu
persatu dengan mentransaksi
keluarga kecil mereka
tetapi mengalami simultan
mengenai masalah ekspresi
oleh keluarga dan
pasangan suami istri. Dengan
demikian, terapi kelompok
ini dapat menunjang
pemikiran pada pasangan
suami istri.
DAFTAR PUSTAKA
Becvar, Dorothy S. Becvar, Raphael J. 1976.Family
Teraphy ( A systematic Intregation). Adivision of Simon & Schester, Inc. Needham
Height; Massachusetts.
Korchin, Sheldon J. 1976.Modern Clinical Psychology.
Basic Books, Inc. Publishers: New
York.
Nietzel, Michael. 1998. Introduction To Clinical
Psychology. Simon & Schuster /
Aviacom Company. Upper Saddle River:
New Jersey.
Kamis, 30 April 2015
ANALISIS TRANSAKSIONAL
Latar Belakang
Analisis transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat
digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam
terapi kelompok. Analisis transaksional berbeda dengan terapi lainnya karena
merupakan suatu terapi kontraktual dan desisional. Analisis transaksional
berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan
kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. Analisis transaksional
menekankan aspek-aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada
peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat putusan-putusan baru
dan mengubah cara hidupnya.
Pendekatan ini dikembangkan oleh Eric Berne, berlandaskan teori kepribadian
yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini
menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang
terpisah, yaitu: orang tua, orang dewasa dan anak. Teori Berne, menggunakan
beberapa kata utama dan menyajikan suatu kerangka yang bisa dimengerti dan
dipelajari dengan mudah. Kata-kata utamanya adalah orang tua, orang dewasa,
anak, putusan, putusan ulang, permainan, skenario, pemerasan, dicampuri,
pengabdian dan ciri khas.
KONSEP-KONSEP UTAMA
Konsep Dasar Pandangan tentang
sikap manusia
Analisis Transaksional berakar
dalam suatu filsafat anti deterministik yang memandang bahwa kehidupan manusia
bukanlah suatu yang sudah ditentukan. Analisis Transaksional didasarkan pada
asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami keputusan-keputusan pada masa
lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan
kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne dalam pandangannya meyakini
bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan, dalam menghadapi
persoalan-persoalan hidupnya.
Kata transaksi selalu mengacu
pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun
dikenal transaksi, yang dipertukarkan adalah pesan pesan baik verbal maupun
nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara
mendalam proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa
yang dipertukarkan).
Perwakilan Ego
Dalam diri setiap manusia,
seperti dikutip Collins (1983), memiliki tiga status ego. Sikap dasar ego yang
mengacu pada sikap orang tua (Parent= P. exteropsychic); sikap orang dewasa
(Adult=A. neopsychic); dan ego anak (Child = C, arheopsychic). Ketiga sikap
tersebut dimiliki setiap orang (baik dewasa, anak-anak, maupun orangtua). AT
menggunakan suatu sistem terapi yang berlamdaskan pada teori kepribadian yang
menggunakan pola perwakilan ego yang erpisah; orang tua, orang dewasa, dan
anak. Menurut corey (1988), bahwa ego orang tua adalah bagian kepribadian yang
merupakan introyeksi dari orang tua atau subtitusi orang tua. Jika ego orang
tua itu dialami kembali oleh kita, maka apa yang dibayangkan adalah
perasaan-perasaan orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita merasa dan
bertindak terhadap orang lain dengan cara yang sama dengan perasaaan dan
tindakan orang tua kita terhadap diri kita. Ego orang tua berisi
perintah-perintah “harus” dan “semestinya”. Orang tua dalam diri kita bisa
“orang tua pelindung” atau orang tua pengkritik”.
Ego orang dewasa adalah
pengolah data dan informasi., adalah bagian objektif dari kepribadian, juga
menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Dia
tidak emosional dan meghakimi, tetapi menangani fakta-fakta dan kenyataan
ekternal. Berdasarkan informasi yang tersedia, ego orang dewasa menghasilkan
pemecahan yang paling baik untuk masalah-masalah tertentu.
Selanjutnya, ego anak berisi
perasaan-perasaan, dorongan dan tindakan yang bersifat spontan, “anak” yang
berada dalam diri kita bisa berupa “anak alamiah,” adalah anak yang impulsif,
tak terlatih, spontan, dan ekspresif. Dia adalah bagian dari ego anak yang
intuitif. Ada juga berupa “anak disesuiakan,” yaitu merupakan
modifikasi-modifikasi yang dihasilkan oleh pengalaman traumatik,
tuntutan-tuntutan, latihan, dan ketepatan-ketepatan tentang bagaimana caranya
memperoleh perhatian.
Skenario Kehidupan dan Posisi
Psikologi Dasar
Skenario kehidupan adalah ajaran
orang tua yang kita pelajari dan keputusan awal yang dibuat oleh kita sebagai
anak, selanjutnya dipahami oleh kita sebagai orang dewasa. Kita menerima
pesan-pesan dengan demikian kita belajar dan menetapkan tentang bagaimana kita
pada usia dini. Pesan verbal dan non verbal orang tua, mengkomunikasikan
bagaimana mereka melihat dan bagimana merasakan diri kita. Kita membuat
keputusan yang memberikan andil pada pembentukan perasaaan sebagai pemenang
(perasaan “OK”) atau perasaan sebagai orang yang kalah (perasaan “tidak OK”).
Hubungannya dengan konsep
skenario, pesan-pesan dan perintah orang tua dan keputusan kita. Dalam hal ini,
konsep AT memiliki empat posisi dasar yaitu;
Pertama, Saya OK—Kamu OK
Kedua, Saya OK—Kamu Tidak OK
Ketiga, Saya Tidak OK—Kamu OK
Keempat, Saya Tidak OK—Kamu Tidak
OK.
Masing-masing dari posisi itu
berlandaskan pada keputusan yang dibuat seseorang sebagai hasil dari pengalaman
masa kecil. Bila, keputusan yang telah diambil, maka umumnya dia akan bertahan
pada keputusannya itu, kecuali bila ada intevensi (konselor atau kejadian
tertentu) yang mengubahnya. Posisi yang sehat adalah posisi dengan perasaan
sebagai pemenang atau posisi Saya OK—Kamu OK. Dalam posisi tersebut dua orang
merasa seperti pemenang dan bisa menjalin hubungan langsung yang terbuka. Saya
OK—kamu tidak OK, adalah posisi orang yang memproyeksikan masalah-masalanya
kepada orang lain dan biasanya melimpahkan kesalahan pada orang lain, ciri pada
posisi ini menunjukan sikap arogan, menjauhkan seseorang dari orang lain dan
mempertahankan seseorang dari teralinasi. Saya Tidak OK—Kamu OK , adalah posisi
orang yang mangalami depresi, merasa tidak kuasa dibanding dengan orang lain dan
cenderung menarik diri atau lebih suka memenuhi keinginan orang lain daripada
keinginan diri sendir. Saya Tidak OK—Kamu Tidak OK, adalah posisi orang yang
memupus semua harapan, bersikap pesimis, dan memandang hidup sebagai sesutau
yang hampa.
Kebutuhan manusia akan belaian
Pada dasarnya setiap manusia
memerlukan belaian dari orang lain, baik itu yang berlainan dalam bentuk fisik
maupun emosional. AT memungut pandangan tentang motivasi manusia bahwa
kebutuhan-kebutuhan dasar berkaitan langsung dengan tingkah laku sehari-hari
yang dapat diamati. Sejumlah kebutuhan dasar mencakup haus akan belainan, haus
akan struktur, haus akan kesenangan dan haus akan pengakuan. Teori AT
menekankan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mengadakan hubungan yang bisa
dicapai dalam bentuknya yang terbaik melalui keakraban. Hubungan yg akrab
berlandaskan penerimaan posisi saya OK kamu OK di kedua belah pihak. Hubungan
yg akrab lazimnya bertumpu pada penerimaan cinta di mana sikap defensive
menjadi tidak perlu. Memberi dan menerima adalah ungkapan kenikmatan yang
spontan alih-alih respon-respons terhadap upacara-upacara yang diprogram secara
social. Keakraban adalah hbungan yang bebasa dari permainann karena
tujuan-tujuannya tidak tersembunyi (Harris, 1967 hlm 151-152).
Jadi salah satu cara teori AT
menjabarkan tigkah laku manusia adalah dalam kerangka penyusunan waktu yang
melibatkan berbagai cara meperoleh belaian dari orang lain. Cara-cara itu
berada pada suatu kontinum dari pengakuan-pengakuan yg diperoleh seseorang dari
orang lain melalui upacara-upacara dan permainan-permainan, terhadap
belaian-belaian yang diperoleh melalui suatu hubungan pribadi yg bermakna dan
akrab.
Permainan-permainan yang kita
mainkan
Para pendukung AT mendorong
orang-orang untuk mengenali dan memahami perwakilan-perwakilan egonya.
Alasannya adalah dengan mengakui ketiga perwakilan ego itu, orang-orang bisa
membebaskan diri dari putusan- putusan anak yang telah usang dari pesan-pesan
orang tua yg irrasional yang menyulitkan kehidupan mereka. AT mengajari orang
bagian mana yang sebaiknya digunakan untuk membuat putusan-putusan yang penting
bagi kehidupannya. Disamping itu, para tokoh AT mengungkapkan bahwa orang-orang
bisa memahami dialog internalnya antara orang tua dan anak. Mereka juga bisa
mendengar dan memahami hubungan mereka dengan orang lain. Mereka bisa sadar
akan kapan mereka terus terang dan kapan mereka berbohong kepada orang lain.
Dengan menggunakan prinsip-prinsip AT, orang-orang bisa sadar akan jenis
belaian yang diperolehnya., dan mereka bisa mengubah respons-respons belaian
dari negatif ke positif.
AT memandang permainan-permainan
sebagai penukaran belaian-belaian yg mengakibatkan berlarutnya-larutnya
perasaan-perasaan tidak enak. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan
keakraban. Akan tetapi, orang-orang yang terlibat dalam transaksi-transaksi
memainkan permainan menciptakan jarak di antara mereka sendiri dengan
mengimpersonalkan pasangannya. Transaksi itu setidaknya melibatkan dua orang
yang memainkan permainan. Transaksi permainan akan batal jika salah seorang
menjadi sadar bahwa dirinya berada dalam permainan dan kemudian memutusakan
untuk tidak lagi memainkannya.
Segitiga drama Karpman bisa
digunakan untuk membantu orang-orang untuk memahami permainan-permainan. Pada
segitiga terdapat seorang penuntut, seorang penyelamat, dan seorang korban.
Teknik dan Prosedur Terapi
Untuk melakukan terapi dengan
pendekatan AT menurut Haris dalam Corey (1988) treatment individu-individu
dalam kelompok adalah memilih analisis-analisis transaksional, menurutnya fase
permualaan AT sebagai suatu proses mengajar dan belajar serta meletakan pada
peran didaktik terapis kelompok. Konsep-konsep AT beserta tekniknya sangat
relevan diterapkan pada situasi kelompok, meskipun demikian penerapan pada
individu juga dianggap boleh dilakukan. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh,
bila digunakan dengan pendekatan kelompok. Pertama, berbagai ego Orang Tua
mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati. Kedua,
karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu di kelompok
bisa dialami. Ketiga, individu dapat mengalami dalam suatu lingkungan yang
bersifat alamiah, yang ditandai oleh keterlibatan orang lain. Keempat,
konfrontasi permainan yang timbal-balik dapat muncul secara wajar. Kelima, para
klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.
Prosedur pada AT dikombinasikan
dengan terapi Gestalt, seperti yang dikemukakan oleh James dan Jongeward (1971)
dalam Corey (1988) dia menggabungkan konsep dan prosedur AT dengan eksperimen
Gestalt, dengan kombinasi tersebut hasil yang diperoleh dapat lebih efektif
untuk mencapai kesadaran diri dan otonom. Sedangkan teknik-teknik yang dapat
dipilih dan diterapkan dalam AT, yaitu;
1.
Analisis struktural, para klien
akan belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan ego-nya, ini dapat membantu
klien untuk mengubah pola-pola yang dirasakan dapat menghambat dan membantu
klien untuk menemukan perwakilan ego yang dianggap sebagai landasan tingkah
lakunya, sehingga dapat melihat pilihan-pilihan.
2.
Metode-metode didaktik, AT
menekankan pada domain kognitif, prosedur belajar-mengajar menjadi prosedur
dasar dalam terapi ini.
3.
Analisis transaksional, adalah
penjabaran dari yang dilakukan orang-orang terhadap satu sama lain, sesuatu
yang terjadi diantara orang-orang melibatkan suatu transaksi diantara
perwakilan ego mereka, dimana saat pesan disampaikan diharapkan ada respon. Ada
tiga tipe transaksi yaitu; komplementer, menyilang, dan terselubung.
Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung:
PT. Refika Aditama.
Langganan:
Postingan (Atom)