Senin, 30 Maret 2015

Psikoterapi - Tugas 2

Perbedaan antara Psikoterapi dengan Konseling
Brammer & Shostrom (1977) mengemukakan perbedaan konseling dan psikoterapi bahwa:
  1. Konseling ditandai dengan adanya terminologi seperti: “educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time dan short-time”.
  2. Sedangkan psikoterapi ditandai dengan: “supportive (dalam keadaan krisis),reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotic and other severe emotional problem and long-term”.


Perbedaan konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut:


KONSELING UNTUK
PSIKOTERAPI UNTUK
1.    Klien
1.    Pasien
2.    Gangguan yang kurang serius
2.    Gangguan yang serius
3.    Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
3.    Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
4.    Berhubungan dengan pencegahan
4.    Berhubungan dengan penyembuhan
5.    Lingkungan pendidikan dan non medis
5.    Lingkungan medis
6.    Berhubungan dengan kesadaran
6.    Berhubungan dengan ketidaksadaran
7.    Metode pendidikan
7.    Metode penyembuhan

Bentuk-Bentuk Utama Dari Terapi
1.                   Terapi Supportive: suatu bentuk alernatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan tidak mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan fisiknya
2.                  Terapi Reeductive: membangitkan pengertian pada penderita tentang konflik-konflik jiwa yang dikandungnya yang terutama terletak dalam alam sadarnya. Terapi ini lebih banyak menempatkan konflik-konflik alam sadar dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri kembali, memodifikasi tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi-potensi kreatif yang ada.
3.                  Terapi Reconstuctive: menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfesi atau lebih mudah dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.




Farah Farida Amany
12512759
3PA06

Kamis, 19 Maret 2015

Psikoterapi - Tugas 1

1.    Definisi Psikoterapi
       Menurut Wampold (dalam Kertamuda, 2010) psikoterapi adalah cara yang paling utama dalam interpersonal yang berlandaskan pada prinsip-prinsip psikologikal. Prinsip tersebut termasuk pada terapis dan klien yang mengalami gangguan mental, masalah ataucomplain. Hal tersebut diadaptasi secara individual pada klien tertentu yang memiliki gangguan tersebut.
       Psikoterapi menurut Pietrofesa, Hoffman, dan Splete (dalam Kertamuda, 2010) adalah: (1) lebih menekankan kepada masalah-masalah kesehatan jiwa yang serius, (2) menekankan pada masa lampau daripada masa kini, (3) lebih menekankan insightdaripada perubahan.
Menurut Sarwono (2009), psikoterapi adalah upaya intervensi oleh psikoterapi terlatih agar kliennya bisa mengatasi persoalan. Pada dasarnya metode psikoterapi adalah wawancara tatap muka perorangan, tetapi pada praktiknya banyak variasi yang digunakan tergantung dengan teori yang dipakai dan masalah klien.
       Selain itu, Corsini (dalam Siswadi, 2009) memaparkan bahwa psikoterapi adalah proses interaksi formal antara dua pihak. Setiap pihak bisaanya terdiri atas satu orang, meski bisa dilakukan dua orang atau lebih.
       Berdasarkan pendapat tokoh-tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa psikoterapi adalah proses interaksi antara terapis dengan klien untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi klien berkaitan dengan masalah gangguan mental yang serius, masalah kesehatan jiwa yang serius, dan masalah pada masa lampau, dengan cara membantu klien mendapatkan insight untuk mengatasi masalahnya sendiri.

2.    Tujuan Psikoterapi
       Tujuan psikoterapi adalah untuk mengembalikan keadaan kejiwaan klien yang terganggu (mulai dari masalah ringan-gangguan mental berat) agar bisa berfungsi kembalidengan optimal sehingga klien tersebut bisa merasa dirinya lebih sehat mental (Sarwono:2009).
       Wohlberg (dalam Kertamuda, 2010) menjelaskan tujuan psikoterapi yaitu:
Ø  menghilangkan, mengubah, atau menemukan gejala-gejala yang ada,
Ø  memperbaiki pola tingkah laku yang rusak, dan
Ø  meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan kepribadian yang positif.
Corey (2005) memaparkan ada tujuan-tujuan global psikoterapi yaitu :
·          Klien menjadi lebih menyadari diri, bergerak ke arah kesadaran yang lebih penuh atas kehidupan batinnya, dan menjadi kurang melakukan penyangkalan dan pendistorsian.
·          Klien menerima tanggungjawab yang lebih besar atas siapa dirinya, menerimaperasaan-perasaannya sendiri, menghindari tindakan menyalahgunakan lingkungan dan orang lain atas keadaan dirinya, dan menyadari bahwa sekarang dia bertanggung jawab untuk apa yang dilakukannya.
·          Klien menjadi lebih berpegang pada kekuatan-kekuatan batin dan pribadinya sendiri, menghindari tindakan memainkan peran orang yang tak berdaya, dan menerima kekuatan yang dimilikinya untuk mengubah kehidupannya sendiri.
·          Klien memperjelas nilai-nilainya sendiri, mengambil perspektif yang lebih jelas atas masalah-masalah yang dihadapinya, dan menemukan dalam dirinya sendiri penyelesaian-penyelesaian bagi konflik-konflik yang dialaminya.
·          Klien menjadi lebih terintegrasi serta menghadapi, mengakui, menerima, danmenangani aspek-aspek dirinya yang terpecah dan diingkari, dan mengintegrasi semua perasaan dan pengalaman ke dalam keseluruhan hidupnya.
·          Klien belajar mengambil resiko yang akan membuka pintu-pintu ke arah cara-cara hidup yang baru serta menghargai kehidupan dengan ketidakpastiannya, yang diperlukan bagi pembangunan landasan untuk pertumbuhan.
·          Klien lebih mempercayai diri serta bersedia mendorong dirinya sendiri untuk melakukan apa yang dipilih untuk dilakukannya.
·          Klien menjadi lebih sadar atas alternatif-alternatif yang mungkin serta bersedia memilih bagi dirinya sendiri dan menerima konsekuensi-konsekuensi dari pilihannya.

3.    Unsur Psikoterapi
       Masserman (dalam Residen Bagian Psikiatri, 2007) memaparkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenispsikoterapi.
a.         Peran sosial (martabat)
b.         Hubungan (persekutuan terapeutik)
c.         Hak
d.        Retrospeksi
e.         Reduksi
f.          Rehabilitasi, memperbaiki gangguan perilaku berat
g.         Resosialisasi
h.         Rekapitulasi

Corey, G. (2005). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT RefikaAditama
Siswadi, A.G.P. (2009). Peningkatan Social Well Being dan Personal Control sebagaiSasaran Penting dalam Psikoterapi. Jurnal Psikologi, Vol. II, No. 2, 111-112