Latar Belakang
Analisis transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat
digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam
terapi kelompok. Analisis transaksional berbeda dengan terapi lainnya karena
merupakan suatu terapi kontraktual dan desisional. Analisis transaksional
berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan
kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. Analisis transaksional
menekankan aspek-aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada
peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat putusan-putusan baru
dan mengubah cara hidupnya.
Pendekatan ini dikembangkan oleh Eric Berne, berlandaskan teori kepribadian
yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini
menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang
terpisah, yaitu: orang tua, orang dewasa dan anak. Teori Berne, menggunakan
beberapa kata utama dan menyajikan suatu kerangka yang bisa dimengerti dan
dipelajari dengan mudah. Kata-kata utamanya adalah orang tua, orang dewasa,
anak, putusan, putusan ulang, permainan, skenario, pemerasan, dicampuri,
pengabdian dan ciri khas.
KONSEP-KONSEP UTAMA
Konsep Dasar Pandangan tentang
sikap manusia
Analisis Transaksional berakar
dalam suatu filsafat anti deterministik yang memandang bahwa kehidupan manusia
bukanlah suatu yang sudah ditentukan. Analisis Transaksional didasarkan pada
asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami keputusan-keputusan pada masa
lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan
kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne dalam pandangannya meyakini
bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan, dalam menghadapi
persoalan-persoalan hidupnya.
Kata transaksi selalu mengacu
pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun
dikenal transaksi, yang dipertukarkan adalah pesan pesan baik verbal maupun
nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara
mendalam proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa
yang dipertukarkan).
Perwakilan Ego
Dalam diri setiap manusia,
seperti dikutip Collins (1983), memiliki tiga status ego. Sikap dasar ego yang
mengacu pada sikap orang tua (Parent= P. exteropsychic); sikap orang dewasa
(Adult=A. neopsychic); dan ego anak (Child = C, arheopsychic). Ketiga sikap
tersebut dimiliki setiap orang (baik dewasa, anak-anak, maupun orangtua). AT
menggunakan suatu sistem terapi yang berlamdaskan pada teori kepribadian yang
menggunakan pola perwakilan ego yang erpisah; orang tua, orang dewasa, dan
anak. Menurut corey (1988), bahwa ego orang tua adalah bagian kepribadian yang
merupakan introyeksi dari orang tua atau subtitusi orang tua. Jika ego orang
tua itu dialami kembali oleh kita, maka apa yang dibayangkan adalah
perasaan-perasaan orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita merasa dan
bertindak terhadap orang lain dengan cara yang sama dengan perasaaan dan
tindakan orang tua kita terhadap diri kita. Ego orang tua berisi
perintah-perintah “harus” dan “semestinya”. Orang tua dalam diri kita bisa
“orang tua pelindung” atau orang tua pengkritik”.
Ego orang dewasa adalah
pengolah data dan informasi., adalah bagian objektif dari kepribadian, juga
menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Dia
tidak emosional dan meghakimi, tetapi menangani fakta-fakta dan kenyataan
ekternal. Berdasarkan informasi yang tersedia, ego orang dewasa menghasilkan
pemecahan yang paling baik untuk masalah-masalah tertentu.
Selanjutnya, ego anak berisi
perasaan-perasaan, dorongan dan tindakan yang bersifat spontan, “anak” yang
berada dalam diri kita bisa berupa “anak alamiah,” adalah anak yang impulsif,
tak terlatih, spontan, dan ekspresif. Dia adalah bagian dari ego anak yang
intuitif. Ada juga berupa “anak disesuiakan,” yaitu merupakan
modifikasi-modifikasi yang dihasilkan oleh pengalaman traumatik,
tuntutan-tuntutan, latihan, dan ketepatan-ketepatan tentang bagaimana caranya
memperoleh perhatian.
Skenario Kehidupan dan Posisi
Psikologi Dasar
Skenario kehidupan adalah ajaran
orang tua yang kita pelajari dan keputusan awal yang dibuat oleh kita sebagai
anak, selanjutnya dipahami oleh kita sebagai orang dewasa. Kita menerima
pesan-pesan dengan demikian kita belajar dan menetapkan tentang bagaimana kita
pada usia dini. Pesan verbal dan non verbal orang tua, mengkomunikasikan
bagaimana mereka melihat dan bagimana merasakan diri kita. Kita membuat
keputusan yang memberikan andil pada pembentukan perasaaan sebagai pemenang
(perasaan “OK”) atau perasaan sebagai orang yang kalah (perasaan “tidak OK”).
Hubungannya dengan konsep
skenario, pesan-pesan dan perintah orang tua dan keputusan kita. Dalam hal ini,
konsep AT memiliki empat posisi dasar yaitu;
Pertama, Saya OK—Kamu OK
Kedua, Saya OK—Kamu Tidak OK
Ketiga, Saya Tidak OK—Kamu OK
Keempat, Saya Tidak OK—Kamu Tidak
OK.
Masing-masing dari posisi itu
berlandaskan pada keputusan yang dibuat seseorang sebagai hasil dari pengalaman
masa kecil. Bila, keputusan yang telah diambil, maka umumnya dia akan bertahan
pada keputusannya itu, kecuali bila ada intevensi (konselor atau kejadian
tertentu) yang mengubahnya. Posisi yang sehat adalah posisi dengan perasaan
sebagai pemenang atau posisi Saya OK—Kamu OK. Dalam posisi tersebut dua orang
merasa seperti pemenang dan bisa menjalin hubungan langsung yang terbuka. Saya
OK—kamu tidak OK, adalah posisi orang yang memproyeksikan masalah-masalanya
kepada orang lain dan biasanya melimpahkan kesalahan pada orang lain, ciri pada
posisi ini menunjukan sikap arogan, menjauhkan seseorang dari orang lain dan
mempertahankan seseorang dari teralinasi. Saya Tidak OK—Kamu OK , adalah posisi
orang yang mangalami depresi, merasa tidak kuasa dibanding dengan orang lain dan
cenderung menarik diri atau lebih suka memenuhi keinginan orang lain daripada
keinginan diri sendir. Saya Tidak OK—Kamu Tidak OK, adalah posisi orang yang
memupus semua harapan, bersikap pesimis, dan memandang hidup sebagai sesutau
yang hampa.
Kebutuhan manusia akan belaian
Pada dasarnya setiap manusia
memerlukan belaian dari orang lain, baik itu yang berlainan dalam bentuk fisik
maupun emosional. AT memungut pandangan tentang motivasi manusia bahwa
kebutuhan-kebutuhan dasar berkaitan langsung dengan tingkah laku sehari-hari
yang dapat diamati. Sejumlah kebutuhan dasar mencakup haus akan belainan, haus
akan struktur, haus akan kesenangan dan haus akan pengakuan. Teori AT
menekankan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mengadakan hubungan yang bisa
dicapai dalam bentuknya yang terbaik melalui keakraban. Hubungan yg akrab
berlandaskan penerimaan posisi saya OK kamu OK di kedua belah pihak. Hubungan
yg akrab lazimnya bertumpu pada penerimaan cinta di mana sikap defensive
menjadi tidak perlu. Memberi dan menerima adalah ungkapan kenikmatan yang
spontan alih-alih respon-respons terhadap upacara-upacara yang diprogram secara
social. Keakraban adalah hbungan yang bebasa dari permainann karena
tujuan-tujuannya tidak tersembunyi (Harris, 1967 hlm 151-152).
Jadi salah satu cara teori AT
menjabarkan tigkah laku manusia adalah dalam kerangka penyusunan waktu yang
melibatkan berbagai cara meperoleh belaian dari orang lain. Cara-cara itu
berada pada suatu kontinum dari pengakuan-pengakuan yg diperoleh seseorang dari
orang lain melalui upacara-upacara dan permainan-permainan, terhadap
belaian-belaian yang diperoleh melalui suatu hubungan pribadi yg bermakna dan
akrab.
Permainan-permainan yang kita
mainkan
Para pendukung AT mendorong
orang-orang untuk mengenali dan memahami perwakilan-perwakilan egonya.
Alasannya adalah dengan mengakui ketiga perwakilan ego itu, orang-orang bisa
membebaskan diri dari putusan- putusan anak yang telah usang dari pesan-pesan
orang tua yg irrasional yang menyulitkan kehidupan mereka. AT mengajari orang
bagian mana yang sebaiknya digunakan untuk membuat putusan-putusan yang penting
bagi kehidupannya. Disamping itu, para tokoh AT mengungkapkan bahwa orang-orang
bisa memahami dialog internalnya antara orang tua dan anak. Mereka juga bisa
mendengar dan memahami hubungan mereka dengan orang lain. Mereka bisa sadar
akan kapan mereka terus terang dan kapan mereka berbohong kepada orang lain.
Dengan menggunakan prinsip-prinsip AT, orang-orang bisa sadar akan jenis
belaian yang diperolehnya., dan mereka bisa mengubah respons-respons belaian
dari negatif ke positif.
AT memandang permainan-permainan
sebagai penukaran belaian-belaian yg mengakibatkan berlarutnya-larutnya
perasaan-perasaan tidak enak. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan
keakraban. Akan tetapi, orang-orang yang terlibat dalam transaksi-transaksi
memainkan permainan menciptakan jarak di antara mereka sendiri dengan
mengimpersonalkan pasangannya. Transaksi itu setidaknya melibatkan dua orang
yang memainkan permainan. Transaksi permainan akan batal jika salah seorang
menjadi sadar bahwa dirinya berada dalam permainan dan kemudian memutusakan
untuk tidak lagi memainkannya.
Segitiga drama Karpman bisa
digunakan untuk membantu orang-orang untuk memahami permainan-permainan. Pada
segitiga terdapat seorang penuntut, seorang penyelamat, dan seorang korban.
Teknik dan Prosedur Terapi
Untuk melakukan terapi dengan
pendekatan AT menurut Haris dalam Corey (1988) treatment individu-individu
dalam kelompok adalah memilih analisis-analisis transaksional, menurutnya fase
permualaan AT sebagai suatu proses mengajar dan belajar serta meletakan pada
peran didaktik terapis kelompok. Konsep-konsep AT beserta tekniknya sangat
relevan diterapkan pada situasi kelompok, meskipun demikian penerapan pada
individu juga dianggap boleh dilakukan. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh,
bila digunakan dengan pendekatan kelompok. Pertama, berbagai ego Orang Tua
mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati. Kedua,
karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu di kelompok
bisa dialami. Ketiga, individu dapat mengalami dalam suatu lingkungan yang
bersifat alamiah, yang ditandai oleh keterlibatan orang lain. Keempat,
konfrontasi permainan yang timbal-balik dapat muncul secara wajar. Kelima, para
klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.
Prosedur pada AT dikombinasikan
dengan terapi Gestalt, seperti yang dikemukakan oleh James dan Jongeward (1971)
dalam Corey (1988) dia menggabungkan konsep dan prosedur AT dengan eksperimen
Gestalt, dengan kombinasi tersebut hasil yang diperoleh dapat lebih efektif
untuk mencapai kesadaran diri dan otonom. Sedangkan teknik-teknik yang dapat
dipilih dan diterapkan dalam AT, yaitu;
1.
Analisis struktural, para klien
akan belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan ego-nya, ini dapat membantu
klien untuk mengubah pola-pola yang dirasakan dapat menghambat dan membantu
klien untuk menemukan perwakilan ego yang dianggap sebagai landasan tingkah
lakunya, sehingga dapat melihat pilihan-pilihan.
2.
Metode-metode didaktik, AT
menekankan pada domain kognitif, prosedur belajar-mengajar menjadi prosedur
dasar dalam terapi ini.
3.
Analisis transaksional, adalah
penjabaran dari yang dilakukan orang-orang terhadap satu sama lain, sesuatu
yang terjadi diantara orang-orang melibatkan suatu transaksi diantara
perwakilan ego mereka, dimana saat pesan disampaikan diharapkan ada respon. Ada
tiga tipe transaksi yaitu; komplementer, menyilang, dan terselubung.
Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung:
PT. Refika Aditama.