Latar Belakang
Logoterapi
merupakan satu bentuk psikoterapi eksistensial, didasarkan atas analisa arti
dari eksistensi seseoran. Pada dasarnya disadaro atau tidak sebuah psikoterapi
merupakan bidang yang sangat komitmen dengan filsafat. Artinya prinsip atau
konsep yang dirumuskan oleh seseorang psikoterapis merupakan manifestasi dari
pemikirannya tentang manusia yang selalu berakar pada filsafat tertentu. Tapi hal
ini jarang terjadi bahkan diingkari oleh psikoterapis.
Logoterapi mengakui
kebebasan manusia makhluk yang terbatas sebagai kebebasan manysia makhluk yang
terbatas sebagai kebebasan didalam batas-batas. Manusia hanya berkebebasan
untuk mengambil sikap terhadap kondisi-kondisi seperti kondisi biologis,
psikologis, dan sosiologis. Manusia bebas tampil detirminan somatik dan psikis
guna memasuki dimensi baru yaitu dimensi noetik/spiritual, yang merupakan
dimensi tempat kebebasan manusia.
Logoterapi mengawali
dengan konsep kecemasan, yaitu kecemasan yang ditimbulkan oleh antisipasi
individu atas suatu situasi atau gejala yang ditakutinya. Biasanya terjadi pada
orang yang mempunyai fobia. Pola reaksi atau respon untuk mengatasi kecemasan
antisipatornya itu dengan menghindari atau lari dari situasi yang menjadi
sumber kecemasan.
Teori
dan terapi Viktor Frankl lahir dari pengalamannya selama menjadi tawanan di
kamp konsentrasi Nazi. Di sana, ia menyaksikan banyak orang yang mampu bertahan
hidup atau mati di tengah siksaan. Hingga akhirnya dia menganggap bahwa mereka
yang tetap berharap bisa bersatu dengan orang-orang yang dicintai, punya urusan
yang harus diselesaikan di masa depan, punya keyakinan kuat, memiliki
kesempatan lebih banyak daripada yang kehilangan harapan.
Frankl menamakan terapinya dengan logoterapi,
dari kata Yunani, “logos”, yang berarti pelajaran, kata, ruh, Tuhan atau makna.
Frankl menekankan pada makna sebagai pegertian logos. Bila Freud dan Addler
menekankan pada kehendak pada kesenangan sebagai sumber dorongan. Maka, Frankl
menekankan kehendak untuk makna sebagai sumber utama motivasi.
Selain itu, Frankl juga menggunakan noös yang
berarti jiwa/pikiran. Bila psikoanalisis terfokus pada psikodinamik, yakni
manusia dianggap berusaha mengatasi dan mengurangi ketegangan psikologis.
Namun, Frankl menyatakan seharusnya lebih mementingkan noödinamik, yaitu
ketegangan menjadi unsur penting bagi keseimbangan dan kesehatan jiwa. Bagaimana
pun, orang menginginkan adanya ketegangan ketika mereka berusaha mencapai
tujuan.
Konsep-konsep
Tiga konsep fundamental yang perlu
kita ketahui dalam hubungan dengan logoterapi, antara lain:
- Freedom of will
(bebas dari kemauan)
Kebebasan yang dimaksud di sini
adalah suatu kebebasan untuk tetap berdiri pada apapun kondisi yang dialami
manusia. Di sini manusia bebas untuk menentukan sikapnya menghadapi keadaan
sekitarnya, bebas membuat rencana di luar kecenderungan somatik dan komponen
psikisnya. Bebas dari kemauan bukan berarti bebas dari kondisi-kondisi
biologis, fisik, sosiologis, dan psikologis. Tapi lebih merupakan bebas untuk
mengambil sikap bukan hanya menghadapi dunia, tetapi menghadapi diri sendiri.
- Will-to-meaning
Suatu kemauan untuk menemukan arti
hidupnya, dorongan kemamuan dasar yang berjuang untuk mencapai arti hidup yang
lebh tinggi untuk eksis di dunia. Ia merupakan suatu dorongan yang
mengendalikan manusia yang menemukan arti dalam hidupnya. Will to remaining
muncul dari keinginan pembawaan dasar manusia untuk memberikan sedapat mungkin
nilai bagi dirinya, untuk mengaktualisasikan sebanyak mungkin nilai bagi
dirinya, untuk mengaktualisasikan sebanyak mungkin nilai-nilai hidup manusia
dalam dirinya.
- The meaning of
life
Arti hidup bagi seorang manusia.
Arti hidup yang dimaksud disini ialah arti hidup yang bukan untuk
dipertanyakan, tetapi untuk direspon, karena kita semua bertanggung jawab untuk
suatu hidup. Respon yang diberikan bukan dalam bentuk kata-kata tapi dalam
bentuk tindakan, dengan melakukannya.
Kerangka
berpikir teori kepribadian model
logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut.
Pertama,
setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan
logoterapi, kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat
sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup
bermakna (the
will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami
hidup yang bermakna (meaningful
life) dan ganjaran (reward)
dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness).
Kedua,
jika mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan
dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless). Kondisi ini apabila
tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik neurosis), mengembangkan
karakter totaliter (totalitarianism)
dan konformis (conformism).
Ketiga,
Frankl menentang pendirian dalam psikologi dan psikoterapi bahwa manusia
ditentukan oleh kondisi biologis, konflik-konflik masa kanak-kanak, atau
kekuatan lain dari luar. Ia berpendapat bahwa kebebasan manusia merupakan
kebebasan yang berada dalam batas-batas tertentu. Manusia dianggap sebagai
makhluk yang memiliki berbagai potensi luar biasa, tetapi sekaligus memiliki
keterbatasan dalam aspek ragawi, aspek kejiwaan, aspek sosial budaya dan aspek kerohanian.
Keempat,
kebebasan manusia bukan merupakan kebebasan dari (freedom from) bawaan biologis,
kondisi psikososial dan kesejarahannya, melainkan kebebasan untuk menentukan
sikap (freedom
to take a stand) secara sadar dan menerima tanggung jawab terhadap
kondisi-kondisi tersebut, baik kondisi lingkungan maupun kondisi diri sendiri.
Dengan demikian, kebebasan yang dimaksud Frankl bukanlah lari dari persoalan
yang sebenarnya harus dihadapi.
Kelima, dalam berperilaku, manusia berusaha
mengarahkan dirinya sendiri pada sesuatu yang ingin dicapainya, yaitu makna.
Keinginan akan makna inilah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan
berbagai kegiatan agar hidupnya dirasakan berarti dan berharga. Namun, Frankl
tidak sependapat dengan prinsip determinisme dan berkeyakinan bahwa manusia
dalam berperilaku terdorong mengurangi ketegangan agar memperoleh keseimbangan
dan mengarahkan dirinya sendiri menuju tujuan tertentu yang layak bagi dirinya.
Teknik logoterapi :
Suatu teknik logoterapi disebut
dengan intensi paradoksal. Teknik ini sangat membantu orang-orang yang
mengalami nervous untuk menginginkan sesuatu yang justru ditakutinya dan yang
menimbulkan kecemasan. Disini logoterapi bermaksud mengintegrasikan psikoterapi
dalam keragaman bentuknya. Alat yang memungkinkan manusia mencari dan memahami
nilai situasi tertentu adalah kesadaran, yang secara serentak ada sadar dan ada
bertanggung jawab. Logoterapi bermaksud mengatasi psikologisme yang mereduksi
segala-galanya kepada mekanisme psikis.
http://www.psikologizone.com/victor-emil-frankl-dan-logoterapi-2/065112054