Kamis, 30 April 2015

LOGOTERAPI

Latar Belakang
Logoterapi merupakan satu bentuk psikoterapi eksistensial, didasarkan atas analisa arti dari eksistensi seseoran. Pada dasarnya disadaro atau tidak sebuah psikoterapi merupakan bidang yang sangat komitmen dengan filsafat. Artinya prinsip atau konsep yang dirumuskan oleh seseorang psikoterapis merupakan manifestasi dari pemikirannya tentang manusia yang selalu berakar pada filsafat tertentu. Tapi hal ini jarang terjadi bahkan diingkari oleh psikoterapis.
Logoterapi mengakui kebebasan manusia makhluk yang terbatas sebagai kebebasan manysia makhluk yang terbatas sebagai kebebasan didalam batas-batas. Manusia hanya berkebebasan untuk mengambil sikap terhadap kondisi-kondisi seperti kondisi biologis, psikologis, dan sosiologis. Manusia bebas tampil detirminan somatik dan psikis guna memasuki dimensi baru yaitu dimensi noetik/spiritual, yang merupakan dimensi tempat kebebasan manusia.
Logoterapi mengawali dengan konsep kecemasan, yaitu kecemasan yang ditimbulkan oleh antisipasi individu atas suatu situasi atau gejala yang ditakutinya. Biasanya terjadi pada orang yang mempunyai fobia. Pola reaksi atau respon untuk mengatasi kecemasan antisipatornya itu dengan menghindari atau lari dari situasi yang menjadi sumber kecemasan.
Teori dan terapi Viktor Frankl lahir dari pengalamannya selama menjadi tawanan di kamp konsentrasi Nazi. Di sana, ia menyaksikan banyak orang yang mampu bertahan hidup atau mati di tengah siksaan. Hingga akhirnya dia menganggap bahwa mereka yang tetap berharap bisa bersatu dengan orang-orang yang dicintai, punya urusan yang harus diselesaikan di masa depan, punya keyakinan kuat, memiliki kesempatan lebih banyak daripada yang kehilangan harapan.
Frankl menamakan terapinya dengan logoterapi, dari kata Yunani, “logos”, yang berarti pelajaran, kata, ruh, Tuhan atau makna. Frankl menekankan pada makna sebagai pegertian logos. Bila Freud dan Addler menekankan pada kehendak pada kesenangan sebagai sumber dorongan. Maka, Frankl menekankan kehendak untuk makna sebagai sumber utama motivasi.
Selain itu, Frankl juga menggunakan noös yang berarti jiwa/pikiran. Bila psikoanalisis terfokus pada psikodinamik, yakni manusia dianggap berusaha mengatasi dan mengurangi ketegangan psikologis. Namun, Frankl menyatakan seharusnya lebih mementingkan noödinamik, yaitu ketegangan menjadi unsur penting bagi keseimbangan dan kesehatan jiwa. Bagaimana pun, orang menginginkan adanya ketegangan ketika mereka berusaha mencapai tujuan.
Konsep-konsep
Tiga konsep fundamental yang perlu kita ketahui dalam hubungan dengan logoterapi, antara lain:
-   Freedom of will (bebas dari kemauan)
Kebebasan yang dimaksud di sini adalah suatu kebebasan untuk tetap berdiri pada apapun kondisi yang dialami manusia. Di sini manusia bebas untuk menentukan sikapnya menghadapi keadaan sekitarnya, bebas membuat rencana di luar kecenderungan somatik dan komponen psikisnya. Bebas dari kemauan bukan berarti bebas dari kondisi-kondisi biologis, fisik, sosiologis, dan psikologis. Tapi lebih merupakan bebas untuk mengambil sikap bukan hanya menghadapi dunia, tetapi menghadapi diri sendiri.
-   Will-to-meaning
Suatu kemauan untuk menemukan arti hidupnya, dorongan kemamuan dasar yang berjuang untuk mencapai arti hidup yang lebh tinggi untuk eksis di dunia. Ia merupakan suatu dorongan yang mengendalikan manusia yang menemukan arti dalam hidupnya. Will to remaining muncul dari keinginan pembawaan dasar manusia untuk memberikan sedapat mungkin nilai bagi dirinya, untuk mengaktualisasikan sebanyak mungkin nilai bagi dirinya, untuk mengaktualisasikan sebanyak mungkin nilai-nilai hidup manusia dalam dirinya.
-   The meaning of life
Arti hidup bagi seorang manusia. Arti hidup yang dimaksud disini ialah arti hidup yang bukan untuk dipertanyakan, tetapi untuk direspon, karena kita semua bertanggung jawab untuk suatu hidup. Respon yang diberikan bukan dalam bentuk kata-kata tapi dalam bentuk tindakan, dengan melakukannya.

Kerangka berpikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut.
Pertama, setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi, kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (meaningful life) dan ganjaran (reward) dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness).
Kedua, jika mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless). Kondisi ini apabila tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik neurosis), mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism) dan konformis (conformism).
Ketiga, Frankl menentang pendirian dalam psikologi dan psikoterapi bahwa manusia ditentukan oleh kondisi biologis, konflik-konflik masa kanak-kanak, atau kekuatan lain dari luar. Ia berpendapat bahwa kebebasan manusia merupakan kebebasan yang berada dalam batas-batas tertentu. Manusia dianggap sebagai makhluk yang memiliki berbagai potensi luar biasa, tetapi sekaligus memiliki keterbatasan dalam aspek ragawi, aspek kejiwaan, aspek sosial budaya dan aspek kerohanian.
Keempat, kebebasan manusia bukan merupakan kebebasan dari (freedom from) bawaan biologis, kondisi psikososial dan kesejarahannya, melainkan kebebasan untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) secara sadar dan menerima tanggung jawab terhadap kondisi-kondisi tersebut, baik kondisi lingkungan maupun kondisi diri sendiri. Dengan demikian, kebebasan yang dimaksud Frankl bukanlah lari dari persoalan yang sebenarnya harus dihadapi.
Kelima, dalam berperilaku, manusia berusaha mengarahkan dirinya sendiri pada sesuatu yang ingin dicapainya, yaitu makna. Keinginan akan makna inilah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya dirasakan berarti dan berharga. Namun, Frankl tidak sependapat dengan prinsip determinisme dan berkeyakinan bahwa manusia dalam berperilaku terdorong mengurangi ketegangan agar memperoleh keseimbangan dan mengarahkan dirinya sendiri menuju tujuan tertentu yang layak bagi dirinya.
Teknik logoterapi :
Suatu teknik logoterapi disebut dengan intensi paradoksal. Teknik ini sangat membantu orang-orang yang mengalami nervous untuk menginginkan sesuatu yang justru ditakutinya dan yang menimbulkan kecemasan. Disini logoterapi bermaksud mengintegrasikan psikoterapi dalam keragaman bentuknya. Alat yang memungkinkan manusia mencari dan memahami nilai situasi tertentu adalah kesadaran, yang secara serentak ada sadar dan ada bertanggung jawab. Logoterapi bermaksud mengatasi psikologisme yang mereduksi segala-galanya kepada mekanisme psikis.


http://www.psikologizone.com/victor-emil-frankl-dan-logoterapi-2/065112054